Kamis, 19 Mei 2016

Tugas Softskill Bahasa Indonesia

BAB II
TELAAH PUSTAKA

2.1       Kajian Teori
2.1.1    Definisi Pemasaran
Menurut William J. Stanton (Sunyoto, 2012 : 18), pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi, dan mendistribusikan barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan.
Menurut Philip Kotler (Sunyoto, 2012 : 18), pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana seseorang atau kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk.
Dari pengertian menurut para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa : pemasaran adalah kegiatan perusahaan dalam membuat rencana, menentukan harga, promosi serta mendistribusikan barang dan jasa.  Pemasaran tidak hanya bertujuan untuk memuaskan kepentingan langganan saja akan tetapi juga memperhatikan semua kepentingan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, seperti kesejahteraan karyawan, kepentingan masyarakat dan lain–lain.

2.1.2    Definisi Saluran Distribusi
Beberapa pengertian saluran distribusi menurut para ahli dibidangnya sebagai berikut :
1.      Menurut Suhardi (Sunyoto, 2012 : 172), saluran distribusi adalah perantara – perantara, pembeli dan penjual yang dilalui oleh perpindahan barang baik fisik maupun perpindahan milik sejak produsen hingga ketangan konsumen.
2.      Menurut Kotler (2009 : 106), saluran distribusi adalah sekelompok organisasi yang saling bergantung dan terlibat dalam proses pembuatan produk atau jasa yang disediakan untuk digunakan atau dikonsumsi.
3.      Menurut Limakrisna dan Susilo (2012 : 65), saluran distribusi merupakan alat yang digunakan untuk mengantarkan atau mengirimkan tawaran yang dilakukan perusahaan dan alat dimana penduduk harus mengaksesnya.
4.      Menurut Basu Swastha (2002 : 93), saluran distribusi adalah saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen ke konsumen atau pemakai.
5.      Menurut The American Marketing Association (AMA), saluran distribusi merupakan suatu struktur unit organisasi dalam perusahaan dan luar perusahaan yang terdiri atas agen, dealer, pedagang besar dan pengecer, melalui sebuah komoditi, produk yang dipasarkan.


2.1.3    Macam-Macam Saluran Distribusi
Berikut ini macam – macam saluran distribusi yang dapat dipilih oleh produsen menurut William J. Stanston :
1.      Saluran distribusi untuk barang konsumsi
Dalam penyaluran barang konsumsi yang ditunjukkan untuk para konsumen, terdapat lima macam saluran yaitu sebagai berikut :
a.       Produsen – konsumen
Produsen menggunakan saluran langsung dengan penjualan dari rumah ke rumah atau melalui pos. Pada perusahaan penerbitan buku biasanya menggunakan dengan cara menjual dari sekolah ke sekolah atau dari kampus ke kampus.
b.      Produsen – pengecer – konsumen
Banyak para pengecer besar bertindak sebagai perantara sekaligus sebagai pengecer dan juga sebagai penyalur industri.
c.       Produsen – pedagang besar – pengecer – konsumen
Di dalam pasar konsumen, mereka merupakan grosir atau pedagang besar dan sekaligus pengecer.
d.      Produsen – agen – pengecer – konsumen
Produsen juga menggunakan perantara agen untuk mencapai para pengecer besar maupun pengecer kecil di pasar.
e.       Produsen – agen – pedagang besar – pengecer – konsumen
Untuk mencapai pengecer kecil, produsen sering menggunakan perantara agen dengan pedagang besar untuk menyalurkan ke para pengecer kecil.

2.      Saluran distribusi untuk barang industri
a.       Produsen – pemakai
Saluran distribusi langsung ini dilakukan untuk produk industri berat yang harganya relatif mahal dan mempunyai struktur saluran yang lain.
b.      Produsen – distributor industri – pemakai
Untuk produk alat – alat kantor, operating supplies,dan lain–lain produsen menggunakan distributor industri dalam menyalurkan barangnya ke konsumen.
c.       Produsen – agen – pemakai
Untuk suatu produk baru atau memasuki pasar baru produsen menggunakan agen atau tenaga penjual sendiri.
d.      Produsen – agen – distributor industri – pemakai
Produsen tidak bisa menjual barangnya dengan menggunakan agen untuk dijual langsung kepada pemakai tetapi menggunakan jasa distributor industri untuk dijual kepada pemakai.

3.      Saluran distribusi untuk jasa
Untuk jenis saluran distribusi jasa ada dua maca, yaitu :
a.       Produsen – konsumen
Karena jasa merupakan barang tidak berwujud maka proses produksi dan aktivitas penjualannya membutuhkan kontak langsung antara produsen dan konsumen.
b.      Produsen – agen – konsumen
Penjualan jasa juga sering menggunakan agen sebagai penghubung antara produsen dan konsumen, seperti jasa angkutan travel dan sebagainya.

2.1.4        Fungsi Saluran Distribusi
Saluran distribusi menjalankan pemindahan barang dan jasa dari produsen kepada konsumen. Anggota saluran distribusi menjalankan beberapa fungsi pokok, yaitu; ”Membantu menyelesaikan transaksi dan melengkapi transaksi (Kotler dan Amstrong)”.
1.      Informasi
Fungsinya mengumpulkan data, mendistribusikan riset pemasaran serta informasi intelejen mengenai faktor dan kekuatan dalam lingkungan pemasaran yang dibutuhkan untuk merencanakan dan membantu pertukaran.
2.      Promosi
Fungsinya mengembangkan dan menyebarluaskan komunikasi mengenai suatu perusahaan.
3.      Kontak
Fungsinya menemukan dan berkomunikasi dengan calon pembeli.
4.      Penyesuaian
Fungsinya membentuk dan menyesuaikan tawaran dengan kebutuhan pembeli, termasuk aktivitas seperti pembuatan, pencetakan, pemotongan dan pengemasan.
5.      Negosiasi
Fungsinya untuk mencapai persetujuan mengenai harga dan persyaratan lain dari tawaran sehingga kepemilikan dapat dipindahkan.  

2.1.5       Definisi Promosi
Usaha peningkatan penjualan perusahaan menjalankan berbagai seperti memperbaiki dan memperluas penyaluran produknya serta meningkatkan pelayanan pada konsumen. Disamping itu perusahaan juga melakukan kegiatan promosi pemasaraan. Beberapa pengertian mengenai promosi menurut para ahli sebagai berikut :
1.      Menurut A. Hamdani
Promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk. Kegiatan promosi berfungsi sebagai alat komunikasi antara perusahaan dengan konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan produk sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.
2.      Menurut William J.Stanton
Promosi adalah unsur dalam bauran pemasaran perusahaan yang didayagunakan untuk memberitahukan, membujuk dan mengingatkan tentang produk perusahaan.

2.1.6    Bauran Promosi
Dalam promosi terdapat komunikasi yang harus dibangun oleh pihak produsen kepada konsumennya, dengan membangun komunikasi yang baik dan jelas akan memberikan pengaruh positif antara kedua belah pihak dalam rangka membangun saling percaya, tanpa ada rasa curiga satu sama lain, kegiatan promosi dapat dilakukan dengan beberapa cara yang disebut dengan bauran promosi. Berikut ini bauran promosi menurut Bruce J. Walker :
1.      Penjualan tatap muka (personal selling)
Penjualan pribadi adalah penyajian suatu produk kepada konsumen akhir yang dilakukan oleh tenaga penjual perusahaan yang representatif.
2.      Periklanan (advertising)
Periklanan adalah suatu bentuk penyajian yang bukan dengan orang pribadi, tetapi dengan pembayaran oleh sponsor tertentu.
3.      Promosi penjualan (sales promotion)
Promosi penjualan adalah suatu perencanaan untuk membantu atau melengkapi koordinasi periklanan dan penjualan pribadi.
4.      Publisitas (publicity)
Publisitas adalah sejumlah informasi tentang seseorang, barang, atau organisasi yang disebarluaskan kepada masyarakat melalui media tanpa dipungut biaya atau tanpa pengawasan dari sponsor.
5.      Hubungan masyarakat (public relation)
Hubungan masyarakat merupakan usaha terencana oleh suatu organisasi untuk mempengaruhi sikap atau golongan.


2.1.7    Definisi Penjualan
Penjualan diartikan sebagai usaha yang dilakukan manusia untuk menyampaikan barang bagi mereka yang memerlukan dengan imbalan uang menurut harga yang ditentukan atas persetujuan bersama. Menurut Basu Swastha DH, penjualan adalah interaksi antara individu saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran sehingga menguntungkan bagi pihak lain. Sebuah perusahaan pada umumnya mempunyai tiga tujuan dalam proses penjualan (Swastha, 2002 : 404), yaitu  :
a. Mencapai volume penjulan tertentu
b. Mendapatkan laba tertentu
c. Menunjang pertumbuhan perusahaan

2.1.8    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kegiatan Penjualan
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kegiatan penjualan (Swastha, 2002 : 406) adalah sebagai berikut:
1.      Kemampuan penjualan
Transaksi jual beli secara komersial atas barang dan jasa pada prinsipnya melibatkan dua orang pihak yaitu penjual sebagai perantara dan pembeli sebagai pihak kedua. Peranan penjual adalah meyakinkan kepada konsumen agar dapat berhasil mencapai sasaran penjualan yang  diharapkan.         
2.      Kondisi pasar
Pasar sebagai kelompok pembeli atau pihak yang menjadi sasaran dalam penjualan dapat mempengaruhi kegiatan penjualan. Dalam hal ini faktor yang perlu diperhatikan adalah:
1)        Jenis pasar, apakah itu pasar konsumen, pasar industri, pasar penjual, pasar  internasional, pasar internasional dan lain-lain.
2)        Kelompok pembeli atau segmen pasarnya.
3)        Daya belinya.
4)        Frekuensi pembelinya.
5)        Keinginan dan kebutuhannya.
3.      Modal
Dilihat akan lebih sulit bagi penjual untuk menjual barangnya apabila lokasi pembelian jauh dari tempat penjualan. Keadaan seperti ini penjual harus memperhatikan dulu atau membawa barangnya ke tempat pembeli. Untuk melaksanakan maksud tersebut diperlukan adanya sarana serta usaha seperti alat transportasi, tempat peragaan dan usaha promosi yang semuanya mengarah pada bentuk adanya pengadaan modal yang cukup.

4.      Faktor-faktor lain
Faktor-faktor lain seperti periklanan, peragaan, pemberian hadiah sering mempengaruhi tingkat pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Pelaksanaanya diperlukan dana yang tidak sedikit. Bagi perusahaan besar kegiatan tersebut secara rutin dapat dilakukan sedangkan untuk perusahaan kecil hal ini jarang dilakukan.


DAFTAR PUSTAKA
Kotler Philip & Kevin Lane. 2009. Manajemen Pemasaran, Jilid 2, Edisi 13, Erlangga, Jakarta.

Limakrisna Nandan & Wilhelmus. 2012. Manajemen Pemasaran, Mitra Wacana Media, Jakarta.

Sunyoto, Danang. 2012. Dasar – Dasar Manajemen Pemasaran, PT. Buku Seru, Jakarta.

Swasta, Basu. 2002. Manajemen Pemasaran Modern, Liberty, Yogyakarta.


Senin, 18 April 2016

Tips dan Artikel

Tips Menghadapi Hari Yang Buruk

Setiap orang pasti pernah mengalami hari buruk. Memang hal itu sangat mengerikan bahkan tidak ada kata-kata yang lebih baik dari itu untuk menggambarkannya. Saat Anda menghadapi hal ini, semua keterampilan Anda dalam mengelola stres bisa saja hilang. Jika anda mengalami hari yang buruk, anda tidak perlu khawatir. Berikut adalah beberapa tips menghadapi hari yang buruk yang patut anda coba:
1. BERNAPAS. Hal pertama yang harus Anda lakukan saat mendapatkan hari yang buruk adalah meluangkan waktu untuk bermeditasi. Berkonsentrasilah pada napas, rasakan ketegangan perlahan mencair dan rasakan beban Anda terangkat.
2. BERPIKIR INI HANYA HARI YANG BURUK BUKAN HIDUP YANG BURUK. Ingatlah bahwa hal ini tidak berlangsung setiap hari. Anda hanya perlu bertahan untuk melewatinya dalam beberapa saat saja.
3. AMBIL TANGGUNG JAWAB PRIBADI. Jangan sampai anda melupakan tanggung jawab anda. Anda hanya perlu fokus pada tanggung jawab pribadi anda.
4. BERKOMUNIKASI DENGAN KASIH SAYANG. Ada baiknya anda berkomunikasi dengan orang yang telah membuat hari anda menjadi buruk. Tentu saja gunakan cara berkomunikasi yang baik agar permasalahan menjadi lebih ringan. Bisa jadi orang tersebut tidak menyadari perkataan maupun sikapnya yang membuat anda menjadi tidak suka.
5. MEMILIH TITIK TERANG. Ada Baiknya anda berdoa dan mencari titik terang lainnya agar segala permasalahan anda cepat selesai. Jika anda rasa tidak ada satu manusia pun yang paham, tentu tidak dengan Tuhan. Tuhan pasti mengerti yang anda rasakan, dan akan lebih baik untuk menyerahkannya kepada Sang pemberi hidup. Setidaknya hati anda akan menjadi lebih tenang setelah berdoa.
6. BIARKAN SAJA. Badai pasti berlalu. Habis gelap terbitlah terang. Jadi, ada baiknya anda biarkan saja permasalahan yang anda hadapi maupun hari yang anda anggap buruk. Begitu anda memejamkan mata, segalanya akan hilang dan berganti menjadi hari yang baru.



Bahaya! Ternyata Kebanyakan Selfie Bisa Buatmu Cepat Tua


Vemale.com - Siapa yang tak pernah melakukan selfie, angkat tangan! Pasti kamu bukan salah satunya. Setiap orang pasti pernah melakukan selfie, bahkan ada juga yang suka selfie setiap hari, apalagi kalau sedang mood baik dan sedang merasa dirinya cantik banget hari itu. 

Tapi mungkin kamu tak pernah menyangka bahwa ternyata kebiasaan selfie punya dampak buruk untuk kecantikan kulitmu lho. Kebanyakan selfie ternyata bisa membuatmu cepat tua. Hal ini dikatakan sendiri oleh Mehreen Baig, blogger yang mengaku suka selfie 50 kali jepretan tiap hari. Ia menyalahkan kebiasaannya ini.

Well, siapa yang tak kaget jika ternyata ia menghabiskan waktu hidupnya hanya untuk selfie. Tentu saja ia jadi makin tua jika hanya peduli dengan selfie. Tapi pernyataan wanita ini bukan hanya sebuah kalimat saja. Ternyata secara teori selfie memang bisa membuatmu cepat tua.

Hal ini ternyata tak lepas dari terpaparnya kulit terhadap sinar biru dari layar smartphone. Sinar biru yang dikenal dengan High-Energy Visible light (HEV) ini hampir sama efeknya dengan sinar UV dalam hal merusak kulit. Beberapa kemungkinan efek terlalu banyak dan lama terpapar sinar HEV ini adalah kulit kering, inflamasi, keriput, dan warna kulit tidak rata.

Itulah mengapa banyak ahli kesehatan menyarankan untuk tidak terlalu sering melihat layar gadget, mematikannya saat tidur dan tidak terus-terusan menggunakannya ketika tidak dibutuhkan, apalagi selfie setiap hari. Jadi, masih suka selfie berkali-kali? Semakin sering kamu selfie, semakin parah kamu merusak kulit.

Kecuali jika kamu menerapkan tidur 8 jam per malam, membatasi asupan gula dan garam pada makanan, olahraga rutin, tidak berjemur sinar matahari siang hari serta cukup minum, selfie mungkin tak begitu berpengaruh satu atau dua kali saja per hari.

Selasa, 15 Maret 2016

Tidak Timbulkan Tsunami Besar Gempa Mentawai Tipe Strike Slip



NAMA                        : MEILANI DWIATI SUSILO
KELAS                       : 3EA22
NPM                           : 15213412
DOSEN                      : RENI FITRIANI
MATA KULIAH        : BAHASA INDONESIA 2
JUDUL                       : TIDAK TIMBULKAN TSUNAMI BESAR GEMPA MENTAWAI  
                                      TIPE STRIKE SLIP



  1. Paragraf yang digunakan yaitu paragraf deduktif ,karena penjelasan paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf. Paragraf ini diawali dengan pernyataan yang bersifat umum dan kemudian dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan khusus.
  2. Pengujian data yang digunakan dalam berita tersebut adalah Autoritas, karena tidak mengandung prasangka artinya pendapat disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
  3. Kesimpulan dari berita tersebut adalah Implikasi, karena terdapat waktu dan tempat kejadian yang tertulis dalam kalimat “Gempa di Mentawai yang terjadi Rabu (2/3) sekitar pukul 19.49 WIB itu adalah Gempa Strike Slip.” Dan kekuatan gempa yang tertulis di paragraf pertama  “Gempa berkekuatan 7,8 skala richter (sr) yang berpusat di lautan Kepulauan Mentawai Sumatra Barat.”

Senin, 21 Desember 2015

Pengaruh Kondisi Ekonomi Terhadap Perilaku Konsumen

(Pengaruh Literasi Ekonomi, Kelompok Teman Sebaya dan Kontrol Diri terhadap Perilaku Pembelian Impulsif untuk Produk Fashion pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Globalisasi yang terjadi pada bidang perekonomian disebut dengan globalisasi perekonomian. Globalisasi perekonomian diartikan sebagai suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan hilang dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.
Pengaruh tersebut terlihat dari semakin pesatnya perkembangan pembangunan khususnya di bidang ekonomi Banyaknya pembangunan mall di kota-kota besar menunjukkan tingginya budaya konsumtif di kalangan masyarakat. Para investor cenderung memilih membangun mall di daerah perkotaan, dengan anggapan bahwa masyarakat perkotaan berada di kelas ekonomi menengah ke atas. Dalam perkembangannya mall bertransformasi tidak hanya sekedar tempat berbelanja namun juga sebagai tempat hiburan. Langkah tersebut biasanya dilakukan oleh pihak mal untuk menarik perhatian orang mengunjungi mall dan tanpa disadari perkembangan ini justru menyebabkan pergeseran perilaku konsumsi masyarakat menjadi lebih konsumtif. Masyarakat perkotaan memiliki total pengeluaran rata-rata sebesar Rp4,4 juta per bulan, sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dinilai cenderung konsumtif (Herdaru Purnomo, 2013).
Salah satu bentuk perilaku konsumen yang tidak direncanakan adalah terjadinya pembelian impulsif. Pembelian impulsif (impulsive buying) atau biasa disebut juga unplanned purchase merupakan perilaku seseorang dimana orang tersebut tidak merencanakan sesuatu dalam berbelanja. Konsumen melakukan pembelian impulsif tidak berpikir untuk membeli suatu produk atau merek tertentu. Mereka langsung melakukan pembelian karena ketertarikan pada merek atau produk saat itu juga. Menurut Rook dan Fisher (1995: 306) pembelian impulsif diartikan sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli secara spontan, reflek, tiba-tiba, dan otomatis. Dari definisi tersebut terlihat bahwa impulsive buying merupakan sesuatu yang alamiah dan merupakan reaksi yang cepat.
Pembelian impulsif merupakan fenomena psikoekonomik yang banyak melanda kehidupan masyarakat. Pada proses membeli impulsif, calon pembeli langsung mengarah kepada suatu produk tertentu dan kemudian melakukan pembelian secara cepat. Perilaku pembelian impulsif timbul secara tidak sadar pada saat individu melakukan kegiatan yang berkaitan dengan uang dan gaya hidup. Sebagai contoh, ketika seseorang dengan teman sebayanya berjalan-jalan di pusat perbelanjaan atau mall yang tujuannya hanya sekedar jalan-jalan atau mengisi waktu luang kemudian melihat produk dengan model terbaru atau melihat adanya potongan harga (discount) pada produk tertentu, akhirnya memutuskan membeli meskipun ketika berangkat tidak ada rencana untuk membeli. Berdasarkan fenomena dan pengamatan
sehari-hari yang peneliti lakukan banyak ditemukan remaja termasuk mahasiswa, relatif sering membeli produk fashion dan aksesorisnya. Mereka tak jarang membeli produk fashion dan barang-barang yang sama dengan temannya atau bahkan membanding-bandingkan barang kepemilikannya dengan barang temannya untuk melihat barang siapa yang lebih trendy.
Masalah remaja merupakan bahan kajian yang potensial untuk digali dan diteliti. Hal ini karena jumlah remaja yang berusia antara 10 sampai 24 tahun di Indonesia sangat besar. Menurut data Badan Pusat Statistik (2014) jumlah remaja yang berusia 10-24 tahun di Indonesia secara umum mengalami peningkatan yaitu 64 juta jiwa pada tahun 2008 meningkat menjadi 65,7 juta jiwa pada tahun 2014. Jumlah yang demikian besar merupakan peluang yang sangat potensial bagi produsen atau pemasar untuk memasarkan hasil produksinya. Menurut Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh (2005: 45-47) mahasiswa termasuk dalam kategori masa remaja akhir yaitu antara usia 18 sampai 25 tahun. Masa ini ditandai oleh persiapan akhir memasuk peran-peran orang dewasa. Remaja pada masa ini memiliki keinginan untuk diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa. Pada tahap ini perkembangan intelektual remaja telah berada pada taraf operasional formal, sehingga kemampuan nalarnya tinggi dan lebih matang dalam hal mengambil keputusan.
Tingkat konsumsi mahasiswa Yogyakarta dapat dikategorikan dalam kategori menengah sampai tinggi. Menurut M. Syaifullah (2012) mahasiswa di Yogyakarta menghabiskan Rp23,1 miliar per bulan untuk biaya rekreasi dan hiburan. Jumlah ini mengalahkan biaya belanja buku yang mencapai Rp21 miliar per bulan. Total seluruh biaya, para mahasiswa menghabiskan Rp423,8 miliar per bulan atau rata-rata mahasiswa menghabiskan Rp1,8 juta per bulan. Adapun berdasarkan domisili asal, mahasiswa asal Sulawesi paling tinggi pengeluarannya, yaitu mencapai rata-rata Rp2,6 juta per bulan. Paling rendah mahasiswa asal Pulau Jawa, yang hanya mencapai rata-rata Rp1,6 juta per bulan. Hal ini merupakan potret pembiayaan mahasiswa di Yogyakarta secara umum (Tempo.co, 2012).
Pada umumnya mahasiswa telah diberi kepercayaan dan tanggung jawab dalam mengelola keuangannya sendiri. Dengan demikian mereka merasa beba menggunakan uang yang dimiliki tanpa pengawasan langsung dari orang tua, hal tersebut menyebabkan mahasiswa seringkali kurang rasional dalam membelanjakan uangnya. Para remaja atau mahasiswa lebih sering menggunakan emosi sehingga mengarah pada pembelian secara spontanitas. Pembelian impulsif seringkali terjadi pada produk-produk yang dirasa cukup menarik bagi kelompok konsumen ini, salah satunya adalah produk fashion yang terdiri dari pakaian, celana, sepatu, sandal, jam tangan, kerudung, topi dan tas yang berfungsi sebagai sarana dalam meningkatkan
self image dan mood. Melalui produk fashion tersebut remaja dapat terlihat
lebih modis dan menawan.
Dari beberapa pernyataan mahasiswa di atas, peneliti menduga bahwa hal tersebut berkaitan dengan perilaku pembelian impulsif yang terjadi di kalangan mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Berdasarkan ulasan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui kecenderungan pembelian impulsif pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Selanjutnya penelitian ini dituangkan dalam bentuk skripsi berjudul “Pengaruh Literasi Ekonomi, Kelompok Teman Sebaya dan Kontrol Diri terhadap Perilaku Pembelian Impulsif untuk Produk Fashion pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta”.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengaruh literasi ekonomi terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY?
2.      Bagaimana pengaruh literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri secara bersama-sama terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY?

1.3  TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini mengacu pada permasalahan yang telah disebutkan di atas yaitu untuk mengetahui pengaruh literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY.

1.4  MANFAAT PENELITIAN
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan dan perkembangan ekonomi sekaligus menjadi bahan acuan bagi penelitian selanjutnya.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan efisiensi dan efektifitas perilaku konsumsi mahasiswa, sehingga tidak mengarah pada perilaku konsumtif serta mengurangi perilaku pembelian impulsif.
b.      Bagi peneliti, penelitian ini merupakan sarana untuk berlatih dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui kegiatan penelitian serta menambah wawasan penulis agar berpikir secara kritis dan sistematis dalam menghadapi permasalahan yang terjadi kaitannya dengan ekonomi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KERANGKA TEORI

Masalah Ekonomi
Masalah dalam ekonomi adalah kelangkaan sumber daya relatif terhadap pemenuhan kebutuhan, sementara jumlah kebutuhan manusia tidak terbatas. Dengan demikian, untuk mendapatkan kepuasan dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas maka manusia harus melakukan pemilihan kebutuhan dengan cara mengalokasikan sumber daya yang ada secara efisien. Ilmu ekonomi membantu manusia untuk mencapai kemakmuran yang maksimal dari sumber-sumber atau alat-alat yang tersedia.
Menurut Pandey & Bhattacharya (2012: 3) melek ekonomi adalah kemampuan untuk menggunakan konsep ekonomi untuk membuat keputusan tentang penghasilan, tabungan, pengeluaran dan mengalokasikan uang. Hal ini diperjelas oleh pendapat dari Organization for Economic Literacy (OEL) yang menegaskan bahwa melek ekonomi tidak hanya meliputi pemahaman konsep dasar ekonomi dan fakta ekonomi, tetapi juga tentang kemampuan berpikir kritis yang mendukung cara berpikir ekonomi yang benar. Dengan kata lain, melek ekonomi melibatkan pengetahuan dan penerapan teori-teori ekonomi yang mendasar dalam mengambil keputusan tentang sumber daya yang terbatas.
Menurut Mathews (1999: 2) literasi ekonomi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan individu agar dapat mengenali atau menggunakan konsep ekonomi dan cara berpikir ekonomi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. Sedangkan menurut Jappelli (2009) pada prinsipnya literasi ekonomi merupakan alat untuk mencapai tujuan, hanya saja pada kenyataannya tidak semua orang memiliki literasi ekonomi yang tinggi sehingga mengkerucutkan peluang mencapai kesejahteraan. Salah satu indikatornya adalah menjadi orang yang cerdas dalam mengelola sumber daya ekonominya guna mencapai kesejahteraan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa literasi ekonomi merupakan kemampuan untuk menggunakan konsep dasar ekonomi dan cara berpikir kritis dalam pembuatan keputusan ekonomi. Literasi ekonomi dapat membuat seseorang menjadi cerdas dalam mengelola sumber daya ekonomi untuk mencapai kesejahteraan dengan cara mengaplikasikan konsep ekonomi tersebut. Selain itu, literasi ekonomi menjadi sangat penting untuk membuka pengetahuan tentang biaya atau manfaat suatu barang dalam aktivitas ekonomi.

Hubungan Literasi Ekonomi dengan Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen ditentukan oleh tingkat pengetahuan masyarakat tentang ekonomi, sehingga literasi ekonomi menjadi hal penting. Literasi dalam perekonomian suatu negara menjadi penting, karena dengan literasi ekonomi berarti menunjukkan masyarakat suatu negara merupakan konsumen atau produsen yang cerdas, sehingga akan mendorong terhadap pertumbuhan ekonomi. Masyarakat yang cerdas akan mampu memilih produk yang dapat mendorong perekonomian negaranya, bukan memperkaya negara lain sebagaimana yang menjadi tujuan dari globalisasi. Terkait dengan perilaku konsumsi remaja atau mahasiswa, pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia berkualitas.
Pendidikan merupakan suatu proses yang mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan dalam perilaku. Dapat dikatakan bahwa orang dianggap belajar jika menunjukkan perubahan-perubahan tingkah laku dalam hidupnya. Dengan pengetahuan yang dimiliki, manusia dapat bertindak atau berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang didapatnya dari proses pembelajara termasuk dalam mengambil keputusan. Keputusan ekonomi yang cerdas terlihat dari kemampuan mencari sumber daya yang dimiliki untuk menciptakan benefit. Hal ini diperjelas oleh Jappelli (2009: 9) bahwa literasi ekonomi menjadi semakin penting untuk membuat keputusan rumah tangga, yaitu bagaimana berinvestasi yang tepat, berapa banyak meminjam yang tepat di pasar uang dan bagaimana memahami konsekuensi atas stabilitas keseluruhan ekonomi.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Impulsif
Menurut Loudon dan Bitta (dalam Fikrah Wathani, 2009: 15) menjelaskan bahwa karakteristik produk, karakteristik pemasaran, dan karakteristik konsumen memiliki pengaruh terhadap munculnya perilaku pembelian impulsif. Karakteristik tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1) Karakteristik produk yang mempengaruhi perilaku pembelian impulsif yaitu:
a)      Memiliki harga yang rendah
b)      Adanya sedikit kebutuhan terhadap produk tersebut
c)      Siklus kehidupan produknya pendek
d)     Ukurannya kecil dan ringan
e)      Mudah disimpan
2) Karakteristik pemasaran, hal-hal yang mempengaruhi perilaku pembelian impulsif antara lain:
a)      Distribusi massa pada self-service outlet terhadap pemasangan iklan besar-besaran dan material yang akan didiskon.
b)      Posisi barang yang dipamerkan dan lokasi toko yang menonjol turut mempengaruhi pembelian impulsif.
3) Karakteristik konsumen yang mempengaruhi perilaku pembelian impulsif, yaitu:
1.      Kepribadian konsumen.
2.      Demografis, karakteristik demografis terdiri dari gender, usia, status perkawinan, pekerjaan dan pendidikan.
3.      Karakteristik-karakteristik sosio-ekonomi yang dihubungkan dengan tingkat pembelian impulsif.
Menurut Fatchur (2009: 251) faktor situasional dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, termasuk pembelian impulsif. Faktor situasional tersebut sangat komplek, sehingga dikelompokkan sebagai berikut:
1.      Lingkungan fisik (physical surrounding)
2.      Lingkungan sosial (social surrounding)
3.      Perspektif waktu (temporal perspectives)
4.      Sifat tujuan berbelanja (task definition)
5.      Suasana hati pada saat berbelanja (antecedent states)
Berdasarkan faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, dapat dikatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif konsumen diantaranya adalah kepribadian konsumen, pendidikan, dan lingkungan sosial. Faktor tersebut sesuai dengan variabel bebas dalam penelitian ini yang dianggap dapat berpengaruh terhadap keputusan pembelian dan perilaku pembelian impulsif yaitu literasi ekonomi atau pemahaman terhadap ekonomi,kontrol diri dan kelompok teman sebaya.

Pengaruh Literasi Ekonomi, Kelompok Teman Sebaya dan Kontrol Diri  Secara Bersama-Sama terhadap Perilaku Pembelian Impulsif
Apabila seseorang memiliki literasi ekonomi yang baik atau pemahaman terhadap ekonomi yang cukup baik, maka orang tersebut akan berpikir cerdas dalam pemenuhan kebutuhannya sehari-hari. Seperti halnya mahasiswa yang duduk dibangku kuliah dan mempelajari berbagai konsep ekonomi, mahasiswa tersebut dituntut untuk dapat mengaplikasikan konsep ekonomi dalam kegiatan sehari-hari. Dengan demikian, mahasiswa akan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan konsumsi dan mempertimbangkan biaya atau manfaat suatu barang serta mampu mengalokasikan sumber daya yang terbatas dengan benar. Sehingga perilaku pembelian impulsif dapat dihindari.
Kelompok teman sebaya dikatakan berpengaruh terhadap perilaku konsumen atau pengambilan keputusan pembelian yang mengarah pada perilaku pembelian impulsif melalui interaksi dalam kelompok sebaya tersebut. Pengaruh kelompok teman sebaya membuat remaja cenderung lebih konsumtif dan tidak rasional dalam berperilaku konsumsi, karena pada dasarnya remaja mudah terpengaruh dan ikut-ikutan teman misalnya saja dalam hal berpakaian atau membeli produk fashion terlihat seperti ada persaingan di dalamnya. Hal tersebut diduga mengarah pada perilaku pembelian impulsif. Kontrol diri juga dapat mempengaruhi perilaku pembelian seseorang khususnya remaja atau mahasiswa. Jika remaja memiliki kontrol diri yang baik, maka akan bertindak secara rasional dan penuh pertimbangan dalam berkonsumsi sehingga tidak mengarah pada perilaku konsumtif. Tetapi remaja cenderung memiliki kontrol diri yang rendah, sehingga banyak remaja yang bertindak tanpa pertimbanganpertimbangan terlebih dan hanya menggunakan emosi sesaat dalam mengambil keputusan. Hal tersebut dapat mendorong remaja berperilaku konsumtif dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan pada akhirnya mengarah pada perilaku pembelian impulsif.
            Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri dapat mempengaruhi perilaku konsumsi remaja berupa kecenderungan melakukan pembelian impulsif. Pembelian impulsif biasanya terjadi pada produk-produk yang terjangkau dan dianggap dapat menambah penampilan seseorang menjadi lebih menarik, salah satunya adalah produk fashion. Remaja atau mahasiswa cenderung impulsif pada produk fashion, karena produk fashion merupakan elemen penting bagi mahasiswa untuk menunjang penampilannya di kampus. Jenis produk fashion tersebut bermacammacam seperti pakaian (baju dan celana), tas, sepatu, sandal, kerudung, jam tangan, kaca mata/softlens, topi, dan aksesoris (kalung-kalung, gelang dan cincin).


BAB III
HASIL PENELITIAN

3.1 Pengaruh Literasi Ekonomi terhadap Perilaku Pembelian Impulsif
Dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh literasi ekonomi terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Hal tersebut ditunjukkan oleh besarnya nilai thitung sebesar -0,600 dengan nilai signifikansi t sebesar 0,549 dan koefisien regresi (b1) sebesar -0,014. Karena nilai signifikansi t > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh literasi ekonomi terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY.
Berdasarkan hasil deskripsi data penelitian dapat diketahui bahwa tingkat literasi ekonomi mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2014 termasuk dalam kategori sedang. Meskipun kecenderungan literasi ekonomi menunjukkan kecenderungan sedang, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi ekonomi tidak berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif. Dapat disimpulkan bahwa baik mahasiswa yang memiliki tingkat literasi ekonomi tinggi maupun rendah tidak memiliki perbedaan dalam perilaku pembelian impulsif.
Menurut penelitian Rook (1987: 193-195) pembelian impulsif memiliki beberapa karakteristik yaitu: spontanitas; kekuatan, kompulsi dan intensitas; kegairahan dan stimulasi; dan ketidakpedulian akan akibat. Meskipun pada dasarnya literasi ekonomi bertujuan untuk membuka pengetahuan tentang biaya/manfaat suatu barang dalam aktivitas ekonomi, dengan kata lain untuk menghindarkan seseorang dari perilaku konsumtif. Namun jika dilihat dari karakteristik pembelian impulsif yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan mengapa literasi ekonomi tidak berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif. Pembelian impulsif terjadi secara spontan, tidak terencana, cepat, tidak terkendali dan tidak mempertimbangkan akibat yang akan timbul selanjutnya. Oleh karena itu, ketika dalam situasi pembelian terutama pembelian impulsif, mahasiswa tidak sempat atau tidak ada waktu untuk mengingat dan memperhitungkan bagian-bagian dari konsep ekonomi yang telah dipelajarinya. Sehingga tingkat literasi ekonomi yang dimiliki tidak berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif.

3.2  Pengaruh Literasi Ekonomi, Kelompok Teman Sebaya dan Kontrol Diri secara Bersama-Sama terhadap Perilaku Pembelian Impulsif
Literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengujian dengan uji F yang diperoleh nilai Fhitung sebesar 53,564 dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000. Karena nilai sig. F < 0,05 maka hal ini berarti bahwa literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri secara bersama-sama berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Sehingga dapat membuktikan hipotesis keempat yang telah dikemukakan sebelumnya.
Hasil pengujian regresi ganda menunjukkan bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 0,462 atau 46,2%. Jadi dapat dikatakan bahwa 46,2% perilaku pembelian impulsif dipengaruhi oleh literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri. Sedangkan sisanya sebesar 53,8% dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Variabel literasi ekonomi dalam memberikan sumbangan relatif sebesar 0,7%, variabel kelompok teman sebaya sebesar 39,5% dan variabel kontrol diri sebesar 59,8%. Sedangkan sumbangan efektif dari masing-masing variabel adalah 0,32% untuk variabel literasi ekonomi, 18,25% untuk variabel kelompok teman sebaya dan 27,63% untuk variabel kontrol diri.


BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil analisis yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Tidak terdapat pengaruh literasi ekonomi terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa baik mahasiswa yang memiliki tingkat literasi ekonomi tinggi maupun rendah tidak memiliki perbedaan dalam perilaku pembelian impulsif.
2.      Terdapat pengaruh positif dan signifikan kelompok teman sebaya terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Dikarenakan banyaknya waktu yang dihabiskan dan interaksi yang dilakukan bersama teman sebaya membuat remaja semakin terpengaruh oleh kelompok teman sebaya itu. Kondisi tersebut sedikit banyak dapat mempengaruhi perilaku pembelian mereka dan kemudian mengarah pada perilaku pembelian impulsif.
3.      Terdapat pengaruh negatif dan signifikan kontrol diri terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Hal ini membuktikan, semakin tinggi kontrol diri mahasiswa, maka semakin rendah perilaku pembelian impulsif. Sebaliknya semakin rendah kontrol diri, maka semakin tinggi perilaku pembelian impulsif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mahasiswa Fakultas Ekonomi memiliki kontrol diri yang baik dan mampu mengontro perilakunya sehingga tidak mengarah pada perilaku pembelian impulsif.
4.      Terdapat pengaruh yang signifikan literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fhitung sebesar 53,564 dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000. Karena nilai sig. F < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri terhadap perilaku pembelian impulsif. Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,462, berarti bahwa 46,2% perilaku pembelian impulsif mahasiswa dapat dijelaskan oleh variabel literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri. Sedangkan sisanya 53,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Variabel literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri masing-masing memberikan sumbangan efektif sebesar 0,32% untuk variabel literasi ekonomi, 18,25% untuk variabel kelompok teman sebaya dan 27,63% untuk variabel kontrol diri.

4.2 SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1.      Meskipun dalam penelitian ini literasi ekonomi tidak berpengaruh, mahasiswa diharapkan lebih mendalami literasi ekonomi atau pemahaman konsep-konsep dasar ekonomi, sehingga tidak hanya menguasai secara materi yang nantinya akan cepat lupa, namun dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari literasi ekonomi tersebut agar mahasiswa dapat berpikir kritis, rasional, dan hati-hati dalam menghadapi masalah ekonomi, termasuk dalam kegiatan konsumsi sehingga dapat terhindar dari perilaku pembelian impulsif.
2.      Dalam bergaul dengan teman sebaya hendaknya mahasiswa memperhatikan batas-batas perilaku yang baik dan yang tidak baik untuk dilakukan. Jangan sampai pergaulan dengan teman sebaya mempengaruhi kehidupan yang mengarah pada perilaku hedonisme dan konsumtif.
3.      Mempertahankan dan meningkatkan aspek psikologi yaitu kemampuan mengontrol perilaku agar tidak mudah terpengaruh oleh dampak negatif dari lingkungan sekitar termasuk dalam perilaku konsumsi.
4.      Bagi peneliti selanjutnya yang hendak meneliti maupun mengembangkan penelitian serupa, penulis menyarankan agar mempertimbangkan variasi dari sampel yang akan diteliti dan tentunya dengan variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
SUMBER
http://eprints.uny.ac.id/23808/1/SKRIPSI_NURAENI_11404241013.pdf